KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menjadi
seorang guru adalah anugerah yang sangat terindah, guru adalah profesi yang
sangat mulia, yang memiliki keunikan tersendiri dalam mengemban tugas dan
amanah tersebut.
Mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan kebanggan tersendiri bagi saya karena saya terpilih dalam seleksi Calon Guru Penggerak yang dilaksanakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Guru Penggerak. Guru penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar. Guru penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.
Berikut ini adalah refleksi dari Koneksi Antar Materi Modul Guru Penggerak dengan Materi Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Seorang Pemimpin.
1. Bagaimana
filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Belajar banyak hal dalam pendidikan guru penggerak membuat saya paham mengenai jati diri seorang guru. Saya belajar banyak tentang filosofi KHD, peran dan nilai guru penggerak dan visi guru penggerak.
Bagaimana
filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Sebagai seorang guru,
setiap saat kita harus mengambil keputusan. Apakah seorang siswa dinilai sesuai
KKM atau di bawah KKM, dinaikkan atau tidak, di skors atau dipanggil orang
tuanya, diajar dengan metode PBL atau metode inquiry. Setiap saat kita
mengambil keputusan dalam menjalankan tugas kita sebagai seorang guru.
Dalam
mengambil keputusan, hendaknya kita mempertimbangkan Pratap Triloka KHD, yaitu
Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. DI depan
kita harus bisa menjadi tauladan, di tengah kita harus bisa memberi semangat,
dan di belakang kita harus dapat mendorong siswa kita agar dapat mencapai
kemajuan untuk dapat hidup selamat dan bahagia dalam hidup bermasyarakat.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada
prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan
2. Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan yakni dengan adanya nilai-nilai kebajikan universal yang sudah tertanam sejak kita berada di lingkungan keluarga.
Ada
nilai empati, suara hati, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan, toleransi, sabar,
peduli, menghargai, tanggung jawab, jujur, disiplin, dan keadilan. Nilai yang
sudah tertanam tersebut dapat mempengaruhi terhadap keputusan yang akan kita
ambil dalam penyelesaian suatu masalah. Sebagai orangtua dan guru hendaklah
menanamkan nilai-nilai kebajikan universal yang akan terus bermanfaat bagi putra-putri
kita. Nilai-nilai kebajikan universal yang tertanam dalam diri kita akan
mempengaruhi kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan.
Suatu
contoh, jika anak sering diajarkan bagaimana cara menyenngkan orang banyak, maka
dalam mengambil keputusan berpikir berbasis hasil akhir. Kalau sejak kecil
sudah diajarkan menaati peraturan yang ada, maka cara berpikir kita akan
berbasis peraturan. Dan apabila sejak kecil kita sudah diajarkan tentang
empati, maka prinsip pengambilan keputusan kita lebih besar akan berpikir
berbasis rasa peduli.
3. Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil?
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
sebelumnya.
Materi
pengambilan keputusan sangat berkaitan erat dengan kegiatan coaching yang
diberikan pendamping ataupun fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita. Terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil, di
mana dengan coaching kita dapat menuntun seseorang untuk menemukan solusi
terbaik dari segala masalah mereka. Dengan banyak mendengarkan dan menjadi
coach bagi murid ataupun rekan sejawat, kita dapat menerapkan paradigma,
prinsip, dan langkah-langkah dalam pengambilan dan pengujian suatu keputusan.
Namun segala keputusan tetap kita serahkan kepada murid tersebut.
Pengambilan
keputusan yang diambil berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pasti
akan lebih efektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Apabila dalam pengambilan
keputusan masih terdapat keragu-raguan, maka untuk mempertimbangkan pengambilan
keputusan tersebut bisa dibantu dengan sesi coaching. Dimana rekan sejawat
ataupun siswa yang bermasalah dapat menceritakan secara jelas dan dapat kita
bantu serta tuntun mereka untuk menemukan keputusan terbaik dari masalah
mereka.
4. Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema
etika?
Kemampuan
guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya juga akan
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dimana dengan kematangan aspek
sosial emosional kita dapat mengambil keputusan secara tenang dan benar. Tidak
grusa-grusu.
Keputusan
yang akan diambil diuji terlebih dahulu pada langkah ke-9 yaitu lihat lagi
keputusan dan refleksikan. Di sana kita dapat menggunakan kematangan sosial
emosional kita untuk memikirkan kembali apakah keputusan yang kita ambil itu
sudah tepat. Dengan merefleksikan dan bertanya kepada diri sendiri tentang
keputusan yang diambil itu akan lebih membantu membuat keputusan yang
benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan efektif.
5. Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Pembahasan
studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik dimana dalam kasus keseharian, kasus dianalisis
terlebih dahulu apakah itu merupakan dilema etika ataukah itu adalah bujukan
moral. Dilema etika merupakan situasi dimana kita dihadapkan pada hal benar
lawan benar, namun saling bertentangan. Sedangkan bujukan moral adalah situasi
di mana kita dihadapkan dengan dua hal yang benar melawan salah.
Seorang
pendidik yang mempunyai nilai-nilai kebajikan universal yang tertanam baik
dalam diri mereka dalam mengambil keputusan akan mengedepankan kepentingan
murid serta patuh dan taat pada peraturan yang berlaku sesuai dengan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Jika ada studi kasus yang fokus pada
masalah moral atau etika maka sebagai seorang pendidik dapat menerapkan
paradigma mana yang sesuai dengan masalah tersebut serta prinsip mana yang akan
diambil dalam pengambilan keputusan.
Sekali
lagi, nilai-nilai yang diyakini oleh seorang pendidik menentukan keputusan yang
dia ambil. Seorang penddik yang adil dan bijaksana akan membuat keputusan yang
adil dan bijaksana pula terhadap kasus anak sering membolos. Tidak serta-merta
langsung menghakimi dan mengambil keputusan seketika. Namun ditelusuri dulu
sebab musabab dan asal muasal dari kejadian anak tersebut membolos. Tentunya,
sebagai seorang pendidik, nilai-nilai tersebut haruslah berpihak kepada murid
seperti yang tertuang pada filosofi KHD.
6. Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Apabila
pengambilan keputusan sudah tepat, tentunya akan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang kondusif, aman, dan nyaman. Karena keputusan yang tepat, sudah
dipertimbangkan baik buruk, serta resikonya. Keputusan tidak dapat
mengakomodasi seluruh pendapat orang, namun paling tidak sebagian besar sudah
terakomodasi, sehingga akan tercipta suasana kondusif.
7. Apakah
tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan
perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan
di lingkungan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus
dilema etika ini antara lain adalah dilemanya itu sendiri. Bagaimana keputusan
yang diambil nanti berdampak kepada diri sendiri dan lingkungan kita.
Di
lingkungan saya masih banyak orang yang tidak mau berkoordinasi/rapat. Mereka
lebih suka memanfaatkan hasil keputusan yang diambil oleh sekelompok kecil
orang. Namun di kemudian hari sering terjadi ketidak puasan oleh kelompok yang
tidak mau berkoordinasi ini dan pada akhirnya terjadi sabotase oleh kelompok
yang tidak mau berkoordinasi tersebut. Mereka kurang berpartisipasi aktif dalam
kegiatan yang telah diputuskan.
8. Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang
tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran haruslah
berpihak kepada murid dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita.
Kebutuhan murid yang tidak sama dan memerlukan cara belajar yang berbeda-beda
dapat dipetakan terlebih dahulu kebutuhan belajar murid berdasarkan profil
belajar. Hal tersebut untuk memberikan kesempatan kepada murid supaya belajar
secara natural dan efisien. Pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran
seperti preferensi terhadap lingkungan belajar, pengaruh budaya, gaya belajar,
kecerdasan majemuk dapat kita identifikasi pada murid-murid kita. Sehingga
murid dapat Merdeka belajar dan sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
9. Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Sebagai
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan harus hati-hati dan
benar-benar dipikirkan matang-matang sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Karena keputusan yang kita ambil
dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid kita. Sekali kita
salah mengambil keputusan atau keputusan kita grusa-grusu, tanpa didasari oleh
cara pengambilan keputusan maka akan merugikan murid-murid. Masa depan
murid-murid kita dapat dipersiapkan dengan baik mulai dari sekarang dengan
pengambilan keputusan dari seorang pemimpin pembelajaran yang benar-benar berpihak
pada murid dan mengedepankan kepentingan murid.
10. Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik
dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Kesimpulan
akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya yaitu kita harus berpedoman pada filosofi Ki
Hajar Dewantara, dimana guru menjadi teladan, fasilitator, motivator maupun
pembangkit semangat untuk murid-murid kita. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip
sebagai guru penggerak sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, seperti
mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.
Kepiawaian
seorang guru dalam menjadi coach bagi guru lain juga sangat mempengaruhi dalam
pengambilan suatu keputusan. Di mana kita harus banyak mendengar, kemudian
menuntun murid maupun rekan sejawat menemukan solusinya sendiri. Keputusan yang
sudah diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Aspek sosial emosional tak
kalah pentingnya dalam suatu pengambilan keputusan, dimana dengan keadaan yang
tenang, kita bisa berpikir lambat. Dengan demikian, keputusan yang diambil
pastilah sudah dipertimbangkan dan dipikirkan dengan matang.
Untuk
dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan
membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan yang
efektif dan komunikasi asertif yang baik akan mengarahkan kita keberbagai opsi
dalam pengambilan keputusan. Sehingga dengan keterampilan coaching ini dapat
membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri. Tidak sebatas pada
murid, keterampilan coaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas
praktisi terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran.
Selain
itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri
(self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan
berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses
pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar
penuh(mindfulnes), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.
Diharapkan keputusan yang diambil setelah melalui proses dan prinsip
pengambilan dan pengujian keputusan dapat menguntungkan banyak pihak.
11. Sejauh
mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul
ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan,
3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Dilema
etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua
pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan
bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat
keputusan antara benar atau salah.
Dari
pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui
bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.
Ketika
kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari
yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan,
kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.
Secara
umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika
yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
1) Individu
lawan masyarakat (individual vs community)
Dalam
paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan
sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
2) Rasa
keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam
paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti
aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan
perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian
karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
Kadang
memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga
merupakan tindakan yang benar.
3) Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan
seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika.
Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia
(atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan
informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi,
kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4) Jangka
pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma
ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara
yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan
datang.
3
Prinsip dalam Pengambilan Keputusan.
1) Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Prinsip
ini berpijak pada aliran ulitarianism, yaitu mengerjakan apa yang dapat
menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.
2) Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Primsip
ini berpijak dari filsafat, yaitu deontologis, dari bahasa yunani “deon” yang
berarti tugas atau kewajiban.
3) Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Memutuskan
sesuatu dengan pemikiran, apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap
anda.
9 langkah pengambilan keputusan
1)
Mengenali
bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
2)
Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3)
Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
4)
Pengujian
Paradigma Benar lawan Benar
5)
Melakukan
Prinsip Resolusi
6)
Investigasi
Opsi Trilema
7)
Buat
Keputusan
8)
Lihat
lagi Keputusan dan Refleksikan
12. Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai
pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa
yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum
mempelajari modul ini saya pernah menerapkan pengambilan keputusan dalam
situasi moral dilema. Perbedaanya pada saat itu saya tidak mengetahui apakah
kasus yang terjadi pada saya ini termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.
Seperti kasus saat anak meminta jam kosong setelah pelajaran PJOK atau anak meminta
ijin terlambat masuk kelas karena bangun kesiangan karena semalaman ikut ronda
selama bulan puasa. Saat orang tua meminta toleransi untuk anaknya yang suka
membolos kita juga menemui dilemma etika. Saat kita harus memutuskan
mengeluarkan atau mempertahankan anak yang suka membolos tersebut juga
merupakan dilemma etika.
Sebelumnya
saya belummemahami paradigma dan prinsip apa yang saya gunakan pada saat itu
serta bagaimana langkah-langkah yang benar pada saat pengambilan keputusan.
Namun dalam pengambilan keputusan saya juga mempertimbangkan segala aspek dan
akibat dan tidak serta merta mengambil keputusan.
13. Bagaimana
dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara
Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul
ini?
Dampak
setelah saya mempelajari modul ini adalah saya lebih mampu membedakan setiap
kasus yang saya hadapi apakah termasuk dilema etika ataukah bujukan moral dan
lebih siap serta lebih mantab dalam mengambil keputusan.
Saya
juga dapat menganalisis setiap kasus dilemma etika yang saya hadapi termasuk
pada paradigma Individu vs masyarakat (individual vs community) Rasa keadilan
vs rasa kasihan (justice vs mercy) Kebenaran vs kesetiaan (truth vs loyalty)
Jangka pendek vs jangka panjang (short term vs long term).
Saya
juga mampu melakukan pengujian keputusan menggunakan prinsip demi kebaikan
orang banyak Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking) atau
dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pada prinsip dalam diri atau Berpikir
Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking), dan melakukan apa yang kita harapkan
orang lain lakukan pada diri kita atau dengan Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Cares Based Thinking).
Saya
juga mampu melakukan pengambilan keputusan berdasarkan pengujian benar melawan
benar dengan menggunakan uji legal, uji regulasi atau standar profesional, uji
intuisi, uji halaman depan, dan uji panutan atau idola dan saya mampu
menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga saya dapat membuat
keputusan yang tepat dan bijaksana.
14.
Seberapa
penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda
sebagai seorang pemimpin?
Menurut
saya sangat penting bagi saya mempelajari modul ini. Karena materi dari modul
ini sangat membantu saya dalam mempraktekkan pengambilan keputusan yang benar.
Selain itu saya dapat mengidentifikasi setiap kasus yang terjadi sehingga mampu
menemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah.

Luar biasa, menginspirasi bu khun
BalasHapusTerima kasih komentarnya buuu
HapusLuar biasa, lengkap sudah, Bu Kun, sangat menginspirasi.
BalasHapus